Thursday, August 23, 2012

? (tanda tanya)


Sekilas tentang film: sebuah drama percintaan yang mengangkat pluralisme agama dan ras di Indonesia.

Disutradai oleh Hanung Bramantyo, dibantu casting peran oleh istrinya Zaskia Adya Mecca (yang mendapatkan peran figuran di satu scene), dibintangi oleh Revalina S. Temat (sebagai Menuk atau Nuk), Reza Rahardian (Soleh), Rio Dewanto (Hendra alias Ping Hen) serta aktor senior Hengky Solaeman (Tan Kat Sun, Ayah Ping Hen).

Saya tertarik sekali untuk menulis resensi tentang film ini  (walau sudah menjadi draft tertunda selama beberapa bulan :p). Alasan paling utama, saya terlahir sebagai ras yang dianggap minoritas di Indonesia, yaitu chinese,menginginkan adanya kesetaraan, kerukunan, dan tak ada lagi diskriminasi.
Dalam film ’Tanya’, saya menemukan dua poin permasalahan sosial yang kerap terjadi di sekitar kita. Dan sebelum membaca kupasan saya berikut, harap sediakan kepala yang dingin dan hati yang lapang, karena tidak pernah tersirat dalam pikiran saya untuk menulis satu artikel yang dapat mengundang kericuhan.

Ready?

Go!

1.   Masalah ras dan agama
a.  Indahnya perbedaan
-  Satu frame yang menurut saya paling menyentuh dan sanggup mewakili poin ini adalah ketika ibu Ping Hen bersembahyang menancapkan hio, sementara Menuk membungkuk melakukan salah satu gerakan shalat. Tampak bagaimana dua penganut agama yang berbeda dapat berdampingan menjalankan ibadah mereka.
-  Rika, seorang ibu yang beragama Katolik menemani anaknya yang muslim untuk membaca doa sebelum makan. Dan pada saat Natal tiba, si anak membantu ibunya menghias pohon Natal yang dipasang di rumah mereka.

b.  Kontroversi perbedaan
-  Nuk seorang muslimah berjilbab bekerja di restoran Chinese food yang biasa diidentikkan dengan makanan tak halal. Ia tidak menggubris cibiran orang lain karena dia tahu bagaimana cara kerja di dapur restoran tsb.
-  Seorang muslim teman Rika mengalami konflik batin saat akan memutuskan untuk mengambil peran sebagai Yesus di drama Natal. Antara kebutuhan pemenuhan nafkah dan  identitasnya sebagai pemeluk agama Islam.

c. Toleransi beragama itu perlu
-  Nuk membantu ayah Ping Hen membagikan makanan paket untuk para pemeran drama Natal.
-  Pada awal menjalankan usaha restoran keluarga, demi memaksimalkan pemasukan, Ping Hen mengubah peraturan hanya libur Lebaran pada tanggal merah saja, sementara ayahnya dulu memberikan kelonggaran hingga hari kelima. Karena alasan inilah ia diserang karyawan dan keluarga yang protes. Si ayah kemudian terluka parah dan Ping Hen mengerti artinya peraturan yang dulu diterapkan si ayah dan makna toleransi di baliknya.

d. Yakinilah agama yang kau yakini, bukan sekadar mengikuti tradisi keluarga
-  Di akhir cerita, Ping Hen memilih untuk menganut agama Islam setelah ia membaca dan memahami buku rohani mengenai sifat2 ketuhanan Allah SWT yang pernah ia berikan kepada Nuk.
-  Ada pula Rika yang berpindah agama dari Islam ke Katolik, namun masih berpegang pada beberapa norma muslim.
                                                                    
Tanda tanya..
ungkapkan rasa di dada
Apakah menjadi beda,
maka bukan saudara?

2.   Masalah keluarga dan pernikahan
a.   Peran ibu sebagai suporter dan penengah dalam keluarga
Beberapa kali ibu Ping Hen menengahi pertengkaran antara Ping Hen dan ayahnya. Ia membujuk kedua belah pihak untuk mengalah dan saling mengerti posisi lawan.

b.  Masih kentalnya tradisi mewariskan usaha keluarga kepada anak lelaki.
Pada awalnya Ping Hen menolak untuk meneruskan usaha keluarga dan lebih senang meluangkan waktu dengan teman-temannya. Setelah si ayah sakit dan sekarat, barulah dia memenuhi keinginan orang tuanya tsb.

c.  Untuk menjaga keutuhan keluarga, harus ada komitmen dari seluruh anggota keluarga, terutama kepala keluarga dan pasangannya.

d.  Komunikasi itu penting dan sangat diperlukan ibarat jembatan di antara dua lembah terjal.
Ada satu adegan di mana Nuk dan suaminya berselisih. Karena sedang emosi, suami lantas berkata ’kamu ngga ngerti!’ dan kemudian melangkah pergi.
Seandainya si suami mau meluangkan waktu untuk berbicara dan menjelaskan secara baik duduk perkaranya, bukankah akan lebih baik?
Saya berpendapat bahwa komunikasi antara dua sejoli seharusnya lebih menitikberatkan kualitas daripada kuantitas.

Sebelum menikah, kata-katamu manis dan indah
Setelah menikah, penuh sinis dan amarah..

Menikah adalah tuk saling bagi
Tapi kini tiada sama lagi..
Terkadang nada ucapmu tinggi,
lalu kau membalik badan dan pergi..

"Pernikahan itu seperti naik perahu. Satu mengemudi dan satu menunjuk arah. Kalaupun tidak bisa dilakukan bersamaan, tapi boleh bergantian"

Grogol23082012
© by WP

* picture taken from https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb9rZlUU2ALWkmVzYGErVa7WALY8bBKsD9gU9A1gZM6-wpMsTSRQ4x13jeD2s8xwZRJ13juR5rC4VMiZ0F5gIL8R5fCFAUcX6B5eX3E5kyBT4m0OTYidKdtP8JuLIDJxdG8Pa0ECU1Cww/s1600/tanya.jpg

No comments:

Post a Comment

Left your comment..