Friday, October 22, 2010

Bermotor dan Berhidup

Beberapa pekan lalu, saat gw lagi santai menyusuri jalanan bersama B**t hitam kesayangan gw, tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran gw (yang entah dapet penerangan dari mana) hal-hal kemiripan antara cara kita berkendara (terutama sepeda motor) dan cara kita menjalani hidup. Tak percaya? Meski sekilas sepertinya terlalu memaksakan garis jodoh antara mereka, tapi ini bener lho.. (maksa banget kan??)

1. Jalan itu tidak selalu mulus. Kadang permukaannya rata, kadang berkerikil atau bahkan berlubang. Kadang jalannya lurus, kadang berkelok.
Demikian pula dalam perjalanan hidup. Ada kalanya, kita menemui hal yang menyenangkan, tetapi di lain waktu bisa saja kita menghadapi hal yang tidak mengenakkan, yang menyebabkan kita mengumpat pada Sang Pencipta mengadu betapa tidak adilnya dunia ini.
Dan sebagai manusia, wajar bila kita memiliki nafsu untuk memiliki suatu benda yang kita anggap dapat meningkatkan harga diri atau penilaian orang terhadap kita. Pada saat kita ingin mewujudkan sesuatu tersebut, belum tentu semua berjalan dengan mulus dan mudah, ada kalanya harus melewati berbagai cobaan dan rintangan sebelumnya.

2. Ada jalan raya yang besar, ada pula gang sempit.
Analoginya, jalan raya itu masa-masa penuh kelegaan, kesenangan, di mana kita berkecukupan dan dapat hidup mewah; sementara gang sempit adalah masa sulit saat kita harus menahan napas karena tidak memiliki cukup harta untuk bertahan hidup atau dihamburkan. Tidak setiap saat kita dapat hidup senang, harus siap bila sewaktu-waktu kita harus melewati masa susah. Bahkan saat kita baru keluar dari gang sempit, ingatlah bahwa di jalan raya ada  banyak kendaraan yang lebih keren (mengundang iri dan atau minder), kemudian juga kendaraan yang menyalip yang menyebabkan kemungkinan mengalami kecelakaan lebih tinggi.

3. Lampu dan rambu-rambu lalu-lintas (lalin) itu perlu.
Kalau semua laju kendaraan cepat dan tak terkendali, tingkat kecelakaan tentu akan semakin tinggi. Untuk itulah, kita perlu lampu lalin untuk mem-buffer laju kendaraan dan mengatur saat yang tepat untuk menggerakkan kendaraan kita. Saat di persimpangan yang padat kendaraan, coba amati bagaimana efek kerja dari lampu lalin tsb (PS: dalam kondisi normal dan tidak ada yang melanggar lampu merah). 
Dalam kehidupan nyata, matahari dan bulanlah yang memegang peranan ini. Matahari adalah lampu hijau yang menandakan saat kita mulai beraktivitas dan bulan sebagai indikator yang menghentikan dan mengistirahatkan kita sejenak.
Sementara rambu-rambu lalin bisa diibaratkan sebagai peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam masyarakat. Baik itu peraturan dalam keluarga, perusahaan, kelompok masyarakat, maupun undang-undang yang mengatur tata cara bernegara secara umum. Kita boleh saja mengabaikannya, tapi konsekuensi buruk dari pelanggaran tsb, harus kita tanggung sendiri.

4. Keadaan sekitar saat berkendara mempengaruhi kewaspadaan kita.
Pada saat berkendara di siang hari, tentu kita lebih santai karena lebih mudah bagi kita mengamati keadaan jalan dan posisi kendaraan lain di sekitar kita. Pada malam hari, kita jadi lebih tegang karena umumnya keawasan mata manusia berkurang dalam keadaan 'gelap'.
Faktor keadaan yang lain adalah cuaca. Kala hujan turun, kita harus ekstra hati-hati. Setelah diguyur hujan, jalanan jadi lebih licin, mungkin memudahkan kita untuk meluncur. Namun bila kurang waspada, bisa jadi kita harus merem mendadak, dan bila tidak sigap, mudah kehilangan keseimbangan hingga akhirnya jatuh.

5. Menyalip kendaraan lain, perlu perhitungan yang akurat.

Bagi beberapa orang yang memiliki tingkat kesabaran rendah, tentu maunya bisa sampai di tujuan dengan cepat. Dan untuk mencapai tujuan itu, mereka tidak tanggung-tanggung menyalip kendaraan lain dari samping. Menurut gw pribadi, perlu kemampuan berhitung dengan keakuratan yang cukup tinggi untuk dapat melakukannya. Kita harus bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan yang kita perlukan saat akan menyalip sebelum kendaraan (terutama mobil, karena bodinya lebih besar daripada sepeda motor) dari arah lawan melaju ke arah kita dan akhirnya (hampir) berpapasan.
Pernah beberapa kali gw bawa motor n hampir kecelakaan. Jarak kepala motor gw dengan kepala mobil dari arah lawan hanya sekitar 1 meter saja. Kalau saja gw telat mempercepat laju kendaraan sepersekian detik, bukannya tidak mungkin, artikel ini tidak beredar.. =p

6. Jangan terlalu mudah berbangga hati.
Biasanya pada saat terjebak kemacetan, kami para pengendara motor selalu bisa menemukan jalur untuk menerobos ‘antrian’ kendaraan itu. Kendaraan dengan potongan bodi lebih besar, seperti mobil harus rela mandeg sementara kita tetap bisa jalan.. Ada rasa bangga saat kita bisa melampaui kendaraan lain. Tapi jangan lupa untuk tetap awas memperhatikan jalan di depan. Salah-salah, setelah kita melewati pengendara lain dan berniat meledek dengan menjulurkan lidah ke arahnya (rasanya hal seperti ini hanya terjadi di film atau animasi aja deh..), kita tidak sadar ada lubang besar menganga di jalur jalan yang akan kita tempuh.. Cukup bahaya bukan??

Yups.. Untuk sementara, itulah beberapa poin yang bisa gw paparkan mengenai kesamaan mengendarai motor dan menjalani hidup. Memang perlu daya imajinasi tinggi untuk dapat mengaitkan keduanya. Hehe..
Bila ada poin lain yang terpikir oleh sobat sekalian, bisa juga cantumkan di komen. Biar bisa kita renungkan bersama dan buat episode lanjutannya… (halah..!)

Akhir kata, 
Jalan itu tak semulus sutera, hati-hatilah saat berkendara… ^^

bsd22102010
© by WP

http://www.bikergearblog.com/wp-content/uploads/2010/05/women-riding-harley-davidson.jpg

No comments:

Post a Comment

Left your comment..